4 Fashion SALAH Yang Sedang Ngetren di Kalangan Anak Sekolahan

Sejatinya anak sekolah haruslah rapi, fashionya harus sesuai dengan apa yang sudah menjadi peraturan sekolahnya masing-masing. Namun, sekarang image itu sepertinya sudah mulai hilang dikalangan anak-anak sekolahan. Fashion anak-anak muda belakangan memang sedang berkembang pesat, namun apa artinya fashion ketika dalam pemakaianya tidak tahu tempat dan aturan.

Kira-kira apa saja yang akhir-akhir ini sedang ngetren di kalangan pelajar? Ini dia 4 fashion SALAH yang sedang ngetren di kalangan anak-anak sekolahan. Mari disimak....

Pertama, Snapback Yang Merajalela

Snapback

Fashion yang terkenal di kalangan anak-anak sekolahan yang pertama adalah Snapback. Namun apa sih sesungguhnya Snapback itu?

Snapback pada dasarnya adalah istilah lain dari topi baseball. Namun yang sedikit membedakan antara topi baseball dan snapback adalah lidah topinya lebih rata atau datar dibandingkan topi baseball pada umumnya. Snapback kini menjadi model topi yang sedang in sekarang. 

Tulisan di topinya biasanya mengandung kata hardcore atau nama band hardcore. Tampilan Snapback yang bergaya Hiphop kini menjadi primadona di kalangan anak-anak sekolahan. Lebih gilanya lagi, anak sekarang pergi ke sekolah tidak lagi menggunakan topi abu-abu yang biasa mereka pakai saat upacara, tetapi menggunakan Snapback.

Fashion ini tidaklah salah, namun menjadi salah ketika mereka memakainya dikalangan sekolah dan di dalam kelas itu sendiri. Tidak tahu tempat itulah yang menjadikan Snapback menjadi fashion yang salah dikalangan anak-anak sekolahan. Jangan ditiru ya sobat...

Kedua, Kemeja Kotak-Kotak atau Kemeja Bergaris
 
Kemeja kotak-kotak
Kalian pasti tahu dan kenal siapa yang identik dengan kemeja kotak-kotak. Yap beliau adalah Presiden kita Joko Widodo. Meskipun baju kotak-kotak atau kemeja bergaris sudah lama populer, namun lebih populer lagi setelah Pak Joko Widodo memakianya.

Seperti Halnya dengan Snapback, fashion yang sedang digandrungi anak-anak sekolahan adalah kemeja kotak-kotak yang mereka pakai di lingkungan sekolah. Fashion seperti itu sangat mencolok dan terlihat norak sekali ketika dipakai di lingkungan sekolahan. 

Apalagi gaya ketika mereka memakainya adalah dengan kancing baju semua terbuka. Menjadi kerend memang ketika dipakai di luar sekolahan, tetapi kelihatan awut-awutan ketika di dalamnya terlihat baju puith osis atau pramuka. Sangat tidak enak dipandang mata.

Ketiga, Celana Abu-abu Pensil dan Rok 3/4

bayangkan celana sekolah dibuat model seperti ini dengan model menggantung
Jaman sekarang, celana pensil bukan lagi dipadu padankan dengan celana berbahan jins. Tetapi celana sekolah abu-abu atau coklat yang identik dengan anak sekolahan, disulap menjadi bentuk pensil. Lebih parahnya lagi, sekarang celana sekolah yang berbentuk pensil itu dibuat menggantung atau ukuran 3/4. 

Sedangkan fashion rok untuk anak perempuan juga tak kalah gilanya lagi, Rok panjang abu-abu yang biasa dipakai anak-anak SMA sekarang dibuat menggantung 3/4 dengan kaos kaki panjang yang menjulur sampai ke lutut. ckckck

Keempat, Sepatu Berwarna.

Spatu lari tetapi malah dipakai ke sekolaha ckck
Jaman dulu, barang siapa yang memakai sepatu selain warna hitam ke sekolah, pastilah ia akan digiring langsung ke ruang BP atau BK. Sepatu disita bahkan ada yang sampai dibakar oleh guru BK. Walhasil, semuanya kapok dan tidak ada yang mengulanginya lagi.

Namun berbeda dengan anak-anak sekolah model sekarang, sepatu warna-warni berani dipakai ke sekolah. Ketika sudah dirampas guru BP atau BK, rata-rata dari mereka sudah tidak peduli lagi, bahkan ada beberapa yang mengulangi kesalahan yang sama. anak-anak model seperti itu yang kadang membuat heran para guru-guru di sekolahan.

Guys, sejatinya fashion tidak ada yang salah. Mau kalian memakai apapun tidak apa-apa asalkan kalian percaya diri ketika memakainya. Namun guys, fashion menjadi salah ketika kamu tidak bisa menempatkan diri terhadap gaya busana mu di lingkungan-lingkungan tertentu yang memang ada aturan yang sudah disepakati.

Boleh menjadi kretaif, tetapi harus tahu tempat, jika kalian adalah siswa maka selayaknyalah menjadi siswa.

Bagaimana dengan lingkunan sekolahmu? apakah sama dengan fashion di sekolahku?

Related Posts:

Wartawan Senior Bung Broto happy Terkena Pemutusan Kontrak Kerja Dengan Harian Bola

Bung Broto Happy. Sumber: Djarumfoundation.org

Kabar mengejutkan saya peroleh ketika malam ini, 14 November 2015 pukul 2.42 dini hari membuka akun facebook saya. Ada seorang teman facebook yang sama-sama penggemar bulutangkis men-share sebuah postingan dari akun facebooknya Broto Happy Wondomisnowo . Atau yang akrab kira kenal Bung Broto Happy.
 
Kita semua tahu siapa itu Bung Broto Happy, khususnya bagi orang-orang penggemar Bulutangkis seperti saya. Sepak terjang beliau begitu akrab dengan dunia Bulutangkis. Beliau adalah salah satu "mantan" wartawan senior dari Harian Bola yang ikut aktif menjadi pelaku sejarah perkembangan dunia olahraga Indonesia. Khususnya dunia perbulutangkisan Indonesia. Selain karena ulasan tentang pertandingan yang mendalam, analisa kritis saat menjadi komentator pertandingan Bulutangkis pula lah yang menjadi ciri khas Bung Broto Happy.

Tetapi ada apa denganya? dari sebuah postingan di facebooknya ia menulis dengan judul Perjalanan Panjang Harus Berakhir. Dari yang saya amati, sepertinya beliau terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bersama dengan wartawan-wartawan senior lainnya seperti Eko Widodo dan Roosyudhi Priyanto (basket), Donny Winardi (tinju/beladiri), Ary Julianto (sepakbola nasional), bahkan sampai kartunis pencipta Si Gundul, Hanung “Nunk” Kuncoro yang juga harus mengakhiri kariernya.

Tidak diketahui alasan yang pasti mengapa wartawan-wartawan senior yang sudah malang melintang di dunia jurnalistik sekelas Bung Broto Happy terkena PHK. Dari yang Bung Broto utarakan, alasanya Inti sarinya adalah katanya beliau tidak punya potensi! Dengan begitu, ya harus menerima nasib pahit. Kena perampingan, kata halus untuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Ini dia tulisan lengkap Bung Broto Happy Wondomisnowo, yang saya ambil dari akun Facebooknya.

Karya pertama Bung Broto Happy bersama Harian Bola. sumber: akun facebook bung broto happy

Perjalanan Panjang Harus Berakhir

Perjalanan panjang bersama BOLA itu harus berakhir di tengah jalan. Bukan di garis finish. Tentu menyedihkan ya? Ibarat laga bulutangkis yang menjadi kegemaran liputan saya, pertandingan tidak berakhir pada angka 21 atau kalau terjadi setting, hingga maksimal pada skor 30. Ini di tengah laga menarik, malah dihentikan oleh tangan-tangan yang mengaku berkuasa!

Jalan panjang penuh berliku namun menyenangkan bersama BOLA saya mulai tahun 1986 harus berakhir ketika saya dikatakan dalam lembaran hasil assessment yang ditulis panjang lebar. Inti sarinya: katanya saya tidak punya potensi! Dengan begitu, ya harus menerima nasib pahit. Kena perampingan, kata halus untuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Saya tidak sendirian. Ada 30 karyawan lain yang juga bernasib sama. Uniknya, kenapa wartawan yang selama ini menjadi ikon dan Legends, serta punya pengalaman seabreg sebagai jurnalis, malah ikut tergusur? Untuk disebut, di sana ada Eko Widodo dan Roosyudhi Priyanto (basket), Donny Winardi (tinju/beladiri), Ary Julianto (sepakbola nasional), bahkan sampai kartunis pencipta Si Gundul, Hanung “Nunk” Kuncoro juga harus mengakhiri kariernya.

Tidak berpotensi katanya? Ya terserah. Yang pasti, meski disebut tidak punya potensi, saya bisa menyombongkan diri. Di sela-sela jadi jurnalis, saya masih bisa membuat buku. Ada biografi Hariyanto “Smash 100 Watt” Arbi, Taufik Hidayat (dua kali, bersama fofografer Erly Bahtiar), IGk Manila, hingga sejarah PB Tangkas: Baktiku Bagi Indonesia! Juga menulis buku: Jas Merah, Sisi Lain Sejarah Sepak Bola Nasional!

Tulisan pertama saya di Tabloid BOLA, dimuat pada terbitan tanggal 29 Agustus 1986. Pada halaman 8, laporan saya berjudul “Indonesia Berusaha Jadi Juara Umum dalam Fespic Games IV di Solo”. Fespic adalah pekan olah raga penyandang cacat untuk kawasan Timur Jauh dan Pasifik Selatan yang berlangsung di Stadion Sriwedari, Solo, 31 Agustus -7 September 1986.

Setelah tujuh tahun jadi koresponden BOLA di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, pada 1 Maret 1993 pun saya resmi ajdi keluarga besar BOLA di Jakarta. Terima kasih buat BOLA yang telah menggembleng saya menjadi jurnalis, terutama spesialis bulutangkis. 

Bersama BOLA inilah saya menemukan habitat terbaik. Ketika pertama kali terjun ke liputan bulutangkis, yaitu pada Kejuaraan Nasional Bulutangkis 1995 di Denpasar, Bali, saya menorehkan prestasi dalam debut. Oleh dewan juri, laporan saya, dinobatkan sebagai karya terbaik. Sementara untuk foto, jepretan saya hanya menjadi peringkat ketiga!

Kini, sejarah panjang itu harus berakhir. Laporan bulutangkis aya di Harian BOLA pada halaman 12,terbutan tanggal 31 Oktober 2015 adalah karya saya terakhir bersama BOLA. Kalau teman-teman paham, dari judul-judul tulisan saya itu, memang terasa pahit. Semua harus berakhir! Dan per tanggal 11 November 2015, kiprah saya bersama BOLA harus berakhir. 

Yang pasti, apa pun kondisinya. Hidup harus jalan terus. Tetap bergulir dan mengalir. Saya hanya bisa mengucapkan terima aksih buat BOLA yang telah membentuk dan menggembleng saya menjadi jurnalis spesialis bulutangkis. Terima kasih kepada mantan pemain, pelatih, pemain, dan pengurus bulutangkis. Terima kasih juga buat para penggemar dan pecinta bulutangkis. Terima kasih juga kepada semua yang telah membantu dan berjasa besar mengantarkan saya berkarier sebagai jurnalis bulutangkis hingga seperti saat ini.
Maaf kalau selama ini bersama BOLA, ada salah kata dan mengutip pernyataan. Maaf juga akalau tulisan saya kurang lengkap atau keliru.

Saya pamit…..

Tetap semangat Bung, terimakasih atas dedikasinya di harian Bola,  teruslah berkarya walau tidak harus berkarya bersama harian bola. Tetap berkarya demi kemajuan Bulutangkis Indonesia.

Related Posts:

Masa Sekolah J.K Rowling (Bagian 2)

Hay guys,  ini adalah isi wawancara lanjutan dari sebuah buku bersampul ungu dengan judul "Wawancara Dengan J.K Rowling si Pencipta Harry Potter" oleh Lindsey Fraser yang tempo hari gw baca. Pada bagian pertama sudah gw tulis dengan judul Wawancara Dengan J.K Rowling: Keluarga dan Masa Kecilku (Bagian 1). Silahkan dibaca juga ya guys.

J. K Rowling sang pencipta buku Harry Potter
Ya sudah, yuk kita lanjut..

Q: Apa saja yang kau ingat dari hari-hari sekolahmu?

Sekolah pertama ku terletak di pinggiran Bristol dan aku amat menyukainya. Meskipun demikian, aku ingat pada hari pertama ketika Ibu datang menjemputku untuk makan siang, ku sangka sekolahku sudah selesai sampai di situ - ya, cuma sehari saja - dan aku tak perlu kembali lagi besok.

Sekolah desa di Tutshill mirip sekolah-sekolah kuno yang ada di buku-buku karya Charles Dickens - sangat bertolak belakang dengan sekolah terbukaku yang dulu. Tempat duduk kami diatur sesuai tingkat kecerdasan kami di mata guru, dan setelah sepuluh menit Ibu guru langsung menempatkan diriku di barisan murid-murid bodoh.

Ada sejumlah orang yang mempengaruhi karakter Profesor Snape dalam bukuku, dan ibu guru itu sudah tentu salah satunya. Menurutku pengaruhnya itu amat mengerikn. Kami biasa mengadakan tes aritmetika The Daily Ten - mencongak - dan pada hari pertama aku mendapat nilai 0,5 dari yang seharusnya sepuluh. Yah, aku kan belum pernah mengerjakan soal pecahan! Kurasa lambat laun aku semakin menyukai guruku itu, tapi aku ingat aku harus bekerja keras untuk mencapainya. Termasuk mengerjakan soal-soal pecahan itu.

Q: SEPERTI APA MASA SMP-MU?

Aku lumayan suka hari-hari ku di SMP, tapi khususnya aku mendapat pengaruh besar dari guru bahasa Inggrisku, Miss Shepherd. Orangnya keras, dan bisa sangat ketus, tapi ia amat teliti. Aku sangat menghargainya sebab ia guru yang bersemangat mengajar kami. Dengan mengenalnya, aku jadi tahu bahwa ada wanita yang punya karakter berbeda. Ia seorang feminis yang cerdas. Ia punya pendekatan logis yang bagus.

Aku ingat suatu hari aku asyik mencoret-coret sementara ia menerangkan pelajaran, dan ia mengatakan aku telah bersikap kasar. Aku berkilah, "Tapi aku mendengarkan penjelasan anda," dan ia mengatakan ia tidak mengubah apa-apa, sikapku tetap saja kasar. Hal itu sungguh-sungguh melekat dibenakku. Ia tak pernah hanya bilang,"Jangan begitu". Cara mengajarnya memberi kesan yang dalam. Aku pun jadi menyukai bahasa Inggris.

Miss Shepperd sangat ketat dalam tata bahasa dan tidak membolehkan kami ceroboh sedikitpun. Walaupun aku banyak membaca, tapi bagus sekali diberitahu apa persisnya yang membuat tulisan memiliki struktur dan kecepatan. Aku banyak belajar darinya dan hingga kini kami masih berhubungan. Ia satu-satunya guruku tempatku mengadu. Ia membangkitkan kepercayaan.

Ketika Harry Potter and The Philosopher's Stone terbit, ia mengirimiku sepucuk surat melalui Bloomsbury, penerbit yang menerbitkan bukuku.  Bagiku komentar-komentarnya lebih berarti dibanding semua ulasan surat kabar, sebab aku tahu semua ucapanya itu sungguh-sungguh, kalau tidak, ia tak akan menuliskan apa pun. Orangnya penuh integritas. Dan ia menyukai karyaku.

Sewaktu aku duduk di tahun kedua SMU, ada hal penting yang terjadi. Seorang anak laki-laki bernama Sean Harris masuk sekolah kami, sebelumnya ia bersekolah di Cyprus - Ayahnya bertugas di angkatan darat. Ia menjadi sahabat karibku - Harry Potter and The Chamber of Secrets di dedikasikan untuknya.

Sean punya Frod Anglia berwarna biru kehijauan yang berarti kebebasan bagiku. Bila kau tinggal di desa, kemampuan mengemudi amatlah penting. Jadi bisa kupahami, aku tak bisa menulis bahwa yang menyelamatkan Harry dan Ron Weasley dan mengantar mereka ke Hogwarts hanyalah mobil tua sembarangan - mobil itu harus Food Anglia berwarna biru kehijauan. Ron Weasley bukan gambaran hidup sosok Sean, tapi ia memang sangat mirip Sean.

Sering kali pada saat aku membaca ulang apa yang telah kutulis, barulah aku sadar dari mana datangnya cuplikan-cuplikan tertentu dalam ceritaku. Harry di selamatkan oleh mobil itu sebagaimana mobil itu menyelamatkanku dari kebosanan yang kurasakan. Itu salah satu dari sedikit hal yang terpikir olehku, yang berkaitan langsung dengan kehidupan nyata. 

Mobil itu, serta adegan ketika Harry memandang cermin Tarsah dan melihat keluarganya melambai padanya. Itu gambar yang amat penting yang kuambil dari hidupku sendiri, Yakni saat ibuku meninggal pada tahun 1990.

Q: APA KAU MENYUKAI SEMUA GURUMU?

Tidak, tidak semuanya. Guru yang paling tidak kusukai adalah yang suka menggertak. Aku bertemu cukup banyak guru, baik ketika aku masih mengajar maupun saat aku mengunjungi sekolah-sekolah, dan yang tukang gertak memang menonjol. Dari sudut pandang guru, aku mengerti bahwa gampang sekali menjadi penggertak, tapi itu juga yang paling buruk, paling menyedihkan. Kita kembali pada tokoh Snape di sini.

Related Posts: