Wartawan Senior Bung Broto happy Terkena Pemutusan Kontrak Kerja Dengan Harian Bola

Bung Broto Happy. Sumber: Djarumfoundation.org

Kabar mengejutkan saya peroleh ketika malam ini, 14 November 2015 pukul 2.42 dini hari membuka akun facebook saya. Ada seorang teman facebook yang sama-sama penggemar bulutangkis men-share sebuah postingan dari akun facebooknya Broto Happy Wondomisnowo . Atau yang akrab kira kenal Bung Broto Happy.
 
Kita semua tahu siapa itu Bung Broto Happy, khususnya bagi orang-orang penggemar Bulutangkis seperti saya. Sepak terjang beliau begitu akrab dengan dunia Bulutangkis. Beliau adalah salah satu "mantan" wartawan senior dari Harian Bola yang ikut aktif menjadi pelaku sejarah perkembangan dunia olahraga Indonesia. Khususnya dunia perbulutangkisan Indonesia. Selain karena ulasan tentang pertandingan yang mendalam, analisa kritis saat menjadi komentator pertandingan Bulutangkis pula lah yang menjadi ciri khas Bung Broto Happy.

Tetapi ada apa denganya? dari sebuah postingan di facebooknya ia menulis dengan judul Perjalanan Panjang Harus Berakhir. Dari yang saya amati, sepertinya beliau terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bersama dengan wartawan-wartawan senior lainnya seperti Eko Widodo dan Roosyudhi Priyanto (basket), Donny Winardi (tinju/beladiri), Ary Julianto (sepakbola nasional), bahkan sampai kartunis pencipta Si Gundul, Hanung “Nunk” Kuncoro yang juga harus mengakhiri kariernya.

Tidak diketahui alasan yang pasti mengapa wartawan-wartawan senior yang sudah malang melintang di dunia jurnalistik sekelas Bung Broto Happy terkena PHK. Dari yang Bung Broto utarakan, alasanya Inti sarinya adalah katanya beliau tidak punya potensi! Dengan begitu, ya harus menerima nasib pahit. Kena perampingan, kata halus untuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Ini dia tulisan lengkap Bung Broto Happy Wondomisnowo, yang saya ambil dari akun Facebooknya.

Karya pertama Bung Broto Happy bersama Harian Bola. sumber: akun facebook bung broto happy

Perjalanan Panjang Harus Berakhir

Perjalanan panjang bersama BOLA itu harus berakhir di tengah jalan. Bukan di garis finish. Tentu menyedihkan ya? Ibarat laga bulutangkis yang menjadi kegemaran liputan saya, pertandingan tidak berakhir pada angka 21 atau kalau terjadi setting, hingga maksimal pada skor 30. Ini di tengah laga menarik, malah dihentikan oleh tangan-tangan yang mengaku berkuasa!

Jalan panjang penuh berliku namun menyenangkan bersama BOLA saya mulai tahun 1986 harus berakhir ketika saya dikatakan dalam lembaran hasil assessment yang ditulis panjang lebar. Inti sarinya: katanya saya tidak punya potensi! Dengan begitu, ya harus menerima nasib pahit. Kena perampingan, kata halus untuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Saya tidak sendirian. Ada 30 karyawan lain yang juga bernasib sama. Uniknya, kenapa wartawan yang selama ini menjadi ikon dan Legends, serta punya pengalaman seabreg sebagai jurnalis, malah ikut tergusur? Untuk disebut, di sana ada Eko Widodo dan Roosyudhi Priyanto (basket), Donny Winardi (tinju/beladiri), Ary Julianto (sepakbola nasional), bahkan sampai kartunis pencipta Si Gundul, Hanung “Nunk” Kuncoro juga harus mengakhiri kariernya.

Tidak berpotensi katanya? Ya terserah. Yang pasti, meski disebut tidak punya potensi, saya bisa menyombongkan diri. Di sela-sela jadi jurnalis, saya masih bisa membuat buku. Ada biografi Hariyanto “Smash 100 Watt” Arbi, Taufik Hidayat (dua kali, bersama fofografer Erly Bahtiar), IGk Manila, hingga sejarah PB Tangkas: Baktiku Bagi Indonesia! Juga menulis buku: Jas Merah, Sisi Lain Sejarah Sepak Bola Nasional!

Tulisan pertama saya di Tabloid BOLA, dimuat pada terbitan tanggal 29 Agustus 1986. Pada halaman 8, laporan saya berjudul “Indonesia Berusaha Jadi Juara Umum dalam Fespic Games IV di Solo”. Fespic adalah pekan olah raga penyandang cacat untuk kawasan Timur Jauh dan Pasifik Selatan yang berlangsung di Stadion Sriwedari, Solo, 31 Agustus -7 September 1986.

Setelah tujuh tahun jadi koresponden BOLA di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, pada 1 Maret 1993 pun saya resmi ajdi keluarga besar BOLA di Jakarta. Terima kasih buat BOLA yang telah menggembleng saya menjadi jurnalis, terutama spesialis bulutangkis. 

Bersama BOLA inilah saya menemukan habitat terbaik. Ketika pertama kali terjun ke liputan bulutangkis, yaitu pada Kejuaraan Nasional Bulutangkis 1995 di Denpasar, Bali, saya menorehkan prestasi dalam debut. Oleh dewan juri, laporan saya, dinobatkan sebagai karya terbaik. Sementara untuk foto, jepretan saya hanya menjadi peringkat ketiga!

Kini, sejarah panjang itu harus berakhir. Laporan bulutangkis aya di Harian BOLA pada halaman 12,terbutan tanggal 31 Oktober 2015 adalah karya saya terakhir bersama BOLA. Kalau teman-teman paham, dari judul-judul tulisan saya itu, memang terasa pahit. Semua harus berakhir! Dan per tanggal 11 November 2015, kiprah saya bersama BOLA harus berakhir. 

Yang pasti, apa pun kondisinya. Hidup harus jalan terus. Tetap bergulir dan mengalir. Saya hanya bisa mengucapkan terima aksih buat BOLA yang telah membentuk dan menggembleng saya menjadi jurnalis spesialis bulutangkis. Terima kasih kepada mantan pemain, pelatih, pemain, dan pengurus bulutangkis. Terima kasih juga buat para penggemar dan pecinta bulutangkis. Terima kasih juga kepada semua yang telah membantu dan berjasa besar mengantarkan saya berkarier sebagai jurnalis bulutangkis hingga seperti saat ini.
Maaf kalau selama ini bersama BOLA, ada salah kata dan mengutip pernyataan. Maaf juga akalau tulisan saya kurang lengkap atau keliru.

Saya pamit…..

Tetap semangat Bung, terimakasih atas dedikasinya di harian Bola,  teruslah berkarya walau tidak harus berkarya bersama harian bola. Tetap berkarya demi kemajuan Bulutangkis Indonesia.

Related Posts:

0 Response to "Wartawan Senior Bung Broto happy Terkena Pemutusan Kontrak Kerja Dengan Harian Bola"

Post a Comment